Top Ad unit 728 × 90

Terbaru

recent

Larangan Mengikat Rambut Di Dalam Solat Namun Tidaklah Membatalkan



Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahawasanya beliau melihat Abdullah bin al-Harits sedang mengerjakan solat sementara rambutnya terikat ke belakang. Segera Ibnu Abbas bangkit untuk mengurai ikatannya. Selesai solat beliau mendatangi Ibnu Abbas dan berkata, “Ada apa gerangan dengan rambutku?” Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wassalam bersabda, ‘Sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti orang yang solat dengan tangan terikat’,” (HR Muslim, no. 492).

Ibnu Abbas mengabarkan dari Rasulullah sallallahu alaihi wassalam sabda beliau:

“Kita diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang dan kita tidak boleh menahan pakaian dan rambut (ketika sedang mengerjakan solat).” (HR. Al-Bukhari no. 810, 815, 816 dan Muslim no. 490, 1095).

Dalam lafaz yang lain disebutkan:

“Dan kami tidak boleh menggabungkan/mengumpulkan pakaian dan rambut.” (HR. Al-Bukhari no. 812 dan Muslim no. 1098).

Makna لاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعْرَ disebutkan dalam An-Nihayah adalah menggabungkan dan mengumpulkannya agar tidak tersebar.

Maksud lainnya melipat atau menggulung hujung pakaian samada hujung lengan baju atau kain atau seluar atau seumpama dengannya.

Namun kalaupun seseorang melakukannya TIDAKLAH MEROSKKAN SOLATNYA.

Di antara hikmah larangan tersebut adalah bila seseorang mengangkat pakaian dan rambutnya kerana tidak ingin bersentuhan dengan tanah, ia menyerupai orang yang sombong.” (Fathul Bari, 2/383)

Al-Imam An-Nawawi juga mengatakan, “Ulama sepakat tentang larangan seseorang bersolat dalam keadaan pakaiannya disingsingkan/diangkat, lengan bajunya disingsingkan atau semisalnya, rambutnya diikat atau rambutnya dimasukkan di bawah serban atau selainnya.

Semua ini terlarang dengan kesepakatan ulama, dan hukumnya karahah tanzih (makruh, tidak sampai haram).

Bila seseorang solat dalam keadaan demikian, maka sungguh ia telah berbuat jelek dalam solatnya, namun SOLATNYA TETAP SAH.

Kemudian jumhur berpendapat larangan tersebut berlaku mutlak bagi orang yang solat, baik ia sengaja melakukannya karena hendak mengerjakan solat ataupun keadaannya memang demikian sebelum ia mengerjakan solat.” (Al-Minhaj, 4/430, 431, 432).

Ulama bersepakat bahawa barangsiapa yang melakukan hal ini TIDAKLAH MEMBATALKAN SOLAT sehingga perlu mengulanginya kembali. Ijma’ dinukilkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab di Fathul Bari (6/52).

Al-’Iraqi rahimahullahu berkata, “Hukum ini khusus bagi laki-laki, tidak bagi wanita. Kerana rambut mereka (para wanita) adalah AURAT, wajib ditutup di dalam solat. JIka wanita melepaskan ikatan rambutnya boleh jadi rambutnya terurai dan sukar untuk menutupinya hingga membatalkan solatnya.

Dan juga, akan menyukarkan bila wanita harus melepaskan rambutnya tatkala setiap kali hendak solat. Nabi sallallahu alaihi wa sallam sendiri telah memberikan keringanan kepada kaum wanita untuk tidak melepaskan ikatan rambut mereka ketika mandi wajib, padahal (hal ini) sangat perlu untuk membasahi seluruh rambut mereka di saat mandi tersebut.” (Nailul Authar 2/440)

Namun jika rambut tidak terlalu panjang dan yakin tidak akan terbuka auratnya, maka hukum berbalik pada hadits di atas iaitu tidak mengikat rambut.

Allahua'lam.



Like | Follow | Subscribe

Facebook (Please Like)
Twitter (Please Follow)
Youtube (Please Subscribe)
Google+ (Please Follow)
Instagram (Please Follow)
Feed Burner (Please Subscribe)
Larangan Mengikat Rambut Di Dalam Solat Namun Tidaklah Membatalkan Reviewed by Fathul Bari Mat Jaya on 7:00 AM Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Dr. Fathul Bari © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Abu Aqif Studio

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.